Sunday, September 30, 2018

CONTOH PTK SMK SALAFIAH KEJAYAN


PROPOSAL PTK

PENGGUNAAN METODE KOOPERATIF TUTORIAL TEMAN SEBAYA BERBASIS KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUASAAN MATERI STATISTIKA KELAS XII PEMASARAN SMK SALAFIAH KEJAYAN








DI SUSUN OLEH:

MIFTAHUL ARIFIN, S.E



SMK SALAFIAH KEJAYAN
(NPSN : 69948773)
Office : Jl. Balai Desa Wrati Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan 67172
e-mail :smksalafiahpas@gmail.com

KATA PENGANTAR


Assalamua’alaikum wr.wb
            Puji syukur kita  panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang  telah melimpahkan rahmatnya kepada kita semua, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) dengan judul  PENGGUNAAN METODE KOOPERATIF TUTORIAL TEMAN SEBAYA BERBASIS KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUASAAN MATERI STATISTIKA KELAS XII PEMASARAN SMK SALAFIAH KEJAYAN ”.
Penelitian ini dimaksudkan sebagai acuan sistem pembelajaran peneliti agar lebih baik lagi dalam mengajar.
Walaupun penulisan Proposal Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini kurang maksimal dan jauh dari kesempurnaan tetapi akhirnya penulisan bisa terselesaikan. Akhirnya peneliti ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas.
Wassalamu`alaikum Wr.Wb.


                                    Kejayan,  21 Oktober 2016
Peneliti






DAFTAR ISI
Halaman Judul  ·············································································       i
Halaman Kata Pengantar  ································································      ii
Halaman Daftar Isi ········································································      iii

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................         1
A.    Latar Belakang   ······························································      1          
B.     Identifikasi Masalah ························································      3
C.     Pembatasan Masalah ……………………………………………..     4
D.    Perumusan Masalah··························································      4
E.     Tujuan Penelitian·····························································      4
F.      Manfaat Penelitian ··························································      4

BAB II  LANDASAN TEORI ·························································      6
A.    Mengajar dan Pembelajaran················································      6
B.     Pembelajaran Koopertif ····················································      6
C.     Tutorial Teman sebaya ……………………………………………     7
D.    Konsep dan Strategi Pembelajaran Kontkstual …………………...    8
E.     Penguasan dan Ketuntasan Belajar Statistika ................................     10
F.      Materi Statistika ………………………………………………….     10
G.    Penelitian yang Relevan ………………………………………….     11
H.    Kerangka Berpikir ………………………………………………..     11

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ···········································     12
A.    Jenis Penelitian ·······························································     12
B.     Subyek Penelitian  ···························································     12
C.     Tempat dan Waktu Penelitian ……………………………………     12
D.    Perencanaan Tindakan Penelitian …………………………………   12
E.     Perangkat Pembelajaran …………………………………………..    15
F.      Instrumen Penelitian·························································     17
G.    Definisi Operasional Penelitian ···········································     19 
H.    Teknik Analisa Data·························································     20

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………… 21

BAB I

PENDAHULUAN


A.                Latar Belakang

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik Tujuan utama diselenggarakannya proses belajar adalah demi tercapainya tujuan pembelajaran. Tujuan tersebut utamanya adalah keberhasilan peserta didik belajar pada suatu mata pelajaran maupun pendidikan pada umumnya (Krismanto, 2003).
Matematika sekolah merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dalam pedoman penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dijelaskan bahwa tujuan  pengajaran matematika di sekolah antara lain agar siswa memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, mengaplikasikan konsep secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh, serta mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah (Depdiknas: 2006).
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang akan diganti dengan Kurikulum 2013 menjadi acuan sekarang ini antara lain menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran, pendidik hendaknya menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif, penataan materi pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik peserta didik. Pengajaran ini dimulai dari hal-hal konkret dilanjutkan ke hal yang abstrak. Pembelajaran diarahkan agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan, harapan tersebut tidak sejalan dengan situasi dan kondisi pembelajaran matematika di kelas selama ini dalam belajar adalah pembelajaran secara konvensional dimana peserta didik hanya menerima saja apa yang disampaikan oleh pendidik, urutan penyajian bahan dimulai dari abstrak ke konkret, yang bertentangan dengan perkembangan kognitif peserta didik yang masih ditingkat rendah.
Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam matematika. Prestasi matematika peserta didik baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. Rendahnya prestasi matematika peserta didik disebabkan oleh faktor peserta didik yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam matematika. Selain itu, belajar matematika peserta didik belum bermakna, sehingga pengertian peserta didik tentang konsep sangat lemah.
Materi Statistika adalah salah satu materi operasi hitung bilangan yang diajarkan pada semester 1 kelas XII. Materi ini adalah materi yang tentunya dikaitkan dengan materi-materi sebelumnya. Terkadang pendidik hanya menyampaikan materi secara verbal tentang sifat-sifat, rumus Statistika. Peserta didik tanpa diberi kesempatan untuk mengetahui darimana hal itu diperoleh. Peserta didik mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada soal-soal cerita tentang Statistika.
Agar proses pembelajaran Statistika menjadi bermakna, kontekstual dan tidak membosankan diperlukan model pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik, dapat melibatkan peserta didik secara aktif, dan peserta didik dapat menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya untuk mengkonstruk pengetahuan yang baru, dan dapat menuntun peserta didik dalam mengkonstruk pengetahuannya, sehingga dapat menarik minat peserta didik dan menyenangkan.
Sehubungan dengan hal tersebut perlu adanya suatu pembelajaran dengan pendekatan atau metode tertentu yang dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dan hasil belajar peserta didik. Pada penelitian ini akan diterapkan metode kooperatif Pembelajaran Kooperatif Teman Sebaya berbasis Kontekstual. Pembelajaran ini pada prinsipnya adalah mengembangkan perangkat yang pembelajarannya dirancang dengan metode kooperatif Pembelajaran Kooperatif Teman Sebaya dan perangkat pembelajarannya memenuhi indikator-indikator dengan pendekatan Kontekstual.
 Salah satu metode pembelajaran yang berpusat pada peserta didik adalah metode pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif di antara peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap peserta didik mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat pada peserta didik dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif, peserta didik lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal.
          Berangkat dari paparan di atas, maka dipandang perlu dilakukan uji coba pembelajaran dengan melakukan penelitian tindakan kelas tentang Penggunaan Metode Kooperatif Tutorial Teman Sebaya Berbasis Kontekstual Untuk Meningkatkan Kemampuan Statistika Kelas XII Pemasaran SMK Salafiah Kejayan.

B.             Identifikasi Masalah
Berdasarkan masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasikan menjadi beberapa masalah yang mempengaruhi Kemampuan Penguasaan Materi Statistika siswa, antara lain:
1.        Siswa kelas XII PEMASARAN SMK Salafiah Kejayan tahun pelajaran 2016/ 2017 masih menganggap pembelajaran matematika khususnya pada materi Statistika sebagai materi pembelajaran yang sulit untuk dipahami dan dipelajari.
2.        Motivasi siswa kelas XII PEMASARAN SMK Salafiah Kejayan tahun pelajaran 2016/ 2017 dalam pembelajaran kurang sehingga siswa pasif pada saat mengikuti pelajaran matematika.
3.        Prestasi belajar siswa kelas XII PEMASARAN SMK Salafiah Kejayan tahun pelajaran 2016/ 2017 dalam proses pembelajaran matematika perlu ditingkatkan
         

C.           Pembatasan Masalah
          Dalam penelitian ini, peneliti tidak meneliti secara keseluruhan masalah-masalah yang telah diidentifikasi. Agar penelitian ini tidak menyimpang dari sasaran pokok penelitian, maka peneliti membatasi masalah dengan subyek dan obyek penelitian. Subyek penelitiannya adalah siswa Sedangkan obyek penelitiannya adalah Kemampuan Penguasaan Materi Statistika yang diperoleh dengan penerapan Metode  pembelajaran Kooperatif Tutorial Teman Sebaya Berbasis Kontekstual pada Kelas XII PEMASARAN SMK Salafiah Kejayan.

D.            Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1.      Apakah pembelajaran matematika dengan metode Pembelajaran Kooperatif Tutorial Teman Sebaya berbasis Kontekstual pada pokok bahasan Statistika di kelas XII dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa?
2.      Apakah pembelajaran matematika dengan metode Pembelajaran Kooperatif Tutorial Teman Sebaya berbasis Kontekstual pada pokok bahasan Statistika di kelas XII dapat meningkatkan jumlah siswa yang tuntas prestasi belajarnya?

E.             Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Metode  pembelajaran Kooperatif Tutorial Teman Sebaya Berbasis Kontekstual, melatih siswa untuk belajar secara bersama demi kemajuan setiap anggota kelompok sehingga tercipta hubungan yang akrab antar anggota kelas, meningkatkan rasa percaya diri dan gairah siswa kelompok bawah dalam pembelajaran Metode  pembelajaran Kooperatif Tutorial Teman Sebaya Berbasis Kontekstual dapat meningkatkan kuantitas siswa tuntas belajar dalam menyelesaikan soal pada materi pokok Statistika.

F.            Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan :
1.      Siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyelesaikan soal Statistika.
2.      Siswa dengan kategori kurang pandai semakin memiliki rasa percaya diri bahwa sesungguhnya dia mampu mengikuti pelajaran dan mampu berprestasi seperti siswa yang lain.
3.      Guru menjadi semakin tertantang untuk menggunakan kreatifitasnya dalam memanfaatkan berbagai model pembelajaran yang lain.
4.      Guru mendapatkan pengalaman tambahan, sehingga dapat melakukan penelitian lanjutan pada kelas dan pokok kajian yang berbeda.
5.      Dapat menjadi bahan masukan guru mata pelajaran lainnya tentang alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan.


BAB II

LANDASAN TEORI


A.        Mengajar dan Pembelajaran
Kegiatan mengajar adalah suatu kegiatan menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan untuk terjadinya proses belajar. Dengan demikian siswa merasa aman dan nyaman di dalam kelas ketika proses pembelajaran sedang berlangsung. Guru berperan sebagai fasilitator dan dinamisator kelas, sehingga subjek belajar yaitu siswa akan lebih banyak berperan serta dalam proses pembelajaran. Pada prinsipnya peran guru sebagai fasilitator dan dinamisator kelas adalah dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan belajar memberikan arah pada proses pembelajaran dan menjadi pedoman bagi seluruh kegiatan belajar. Berdasarkan hal ini, maka guru harus menetapkan terlebih dahulu tujuan belajar yang ingin dicapai, sebelum mulai mengajar. Tercapai tidaknya tujuan belajar dapat diketahui guru setelah melakukan kegiatan evaluasi hasil belajar.
Pada dasarnya setiap siswa memiliki keinginan untuk berprestasi tinggi secara akademik di lingkungna sekolahnya. Namun tentu saja hal ini tidak mungkin dicapai oleh semua siswa , karena prestasi akademik yang baik, dicapai dengan melibatkan berbagai faktor dalam misalnya kecerdasan siswa, dan kelengkapan belajar, sedangkan faktor luar misalnya guru, sarana dan prasarana di sekolah, dan hubungan dengan siswa.

B.         Pembelajaran kooperatif
Dalam pembelajaran seringkali kelas didomonasi oleh kelompok atas, sedangkan kelompok menengah apalagi kelompok tidak begitu nampak perannya dalam pembelajaran. Guru yang baik akan berusaha untuk melibatkan ketiga kelompok ini untuk ikut serta dalam proses pembelajaran. Berbagai cara dapat ditempuh baik melalui pengajuan pertanyaan secara langsung, menyusun stategi pembelajaran yang melibatkan seluruh kelompok siswa dalam kelas. Cara yang terakhir ini seringkali lebih efektif karena melibatkan seluruh anggota kelompok dalam kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif pada dasarnya adalah metode pembelajaran dengan menempatkan siswa dalam kelompok kemampuan anggota heterogen dan memberi penghargaan terhadap usaha dan keberhasilan kelompok, bukan pada perorangan. Gambaran umum dari pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
1.      Siswa secara kooperatif bekerja dalam kelompok untuk menguasai materi.
2.      Kelompok tersusun atas siswa dengan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
3.      Sistem penghargaan berorientasi pada kelompok, bukan perorangan.
4.      Bilamana mungkin memperhatikan ras, budaya, dan jenis kelamin siswa.
C.        Tutorial Teman Sebaya
Metode ini dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, siswa tersebut mengajarkan materi/latihan kepada teman-temannya yang belum faham. Metode ini banyak sekali manfaatnya baik dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang diajarkan. Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi pengarahan dan lain-lain.
Tutor teman sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau dalam kelompok kecil. Tutor teman sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama.
Dalam penggunaan metode pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti halnya tutor sebaya. Uraian di atas adalah beberapa kelebihan dari metode Tutor teman sebaya sementara kekurangan metode ini antara lain :
-          Tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya.
-          Tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan temannya.

D.        Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Kontekstual

Pengajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan peserta didik dari TK sampai dengan SMU/SMK untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah yang disimulasikan.
Pembelajaran kontekstual terjadi apabila peserta didik menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga Negara, peserta didik, dan tenaga kerja. Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya.
Enam unsur kunci pembelajaran kontekstual, yaitu :
1.      Pembelajaran bermakna : pemahaman, relevansi, dan penghargaan pribadi peserta didik bahwa ia berkepentingan terhadap konten yang harus dipelajari. Pembelajaran dipersepsi sebagai relevan dengan hidup mereka;
2.      Penerapan pengetahuan : kemampuan untuk melihat bagaimana apa yang dipelajari diterapkan dalam tatanan-tatanan lain dan fungsi-fungsi pada masa sekarang dan akan dating;
3.      Berfikir tingkat lebih tinggi : peserta didik dilatih untuk berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami persoalan, atau memecahkan suatu masalah;
4.      Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar : konten pengajaran berhubungan dengan suatu rentang dan beragam standar lokal, Negara bagian, nasional, asosiasi, dan / atau industri;
5.      Responsif terhadap budaya : pendidik harus memahami dan menghormati nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan peserta didik, sesama rekan pendidik dan masyarakat tempat mereka mendidik;
6.      Penilaian autentik : penggunaan berbagai macam strategi penilaian yang secara valid mencerminkan hasil belajar sesungguhnya yang diharapkan dari peserta didik.
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), inkuiri (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian autentik (authentic assessment).
Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi peserta didik dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dala pembelajaran seumur hidup. Pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari peserta didik dengan konteks dimana materi tersebut digunakan, serta berhubungan dengan bagaimana seseorang belajar atau cara peserta didik belajar. Konteks memberikan arti, relevansi, dan manfaat penuh terhadap belajar.
Materi pelajaran akan tambah berarti jika peserta didik mempelajari materi pelajaran yang disajikan melalui konteks kehidupan mereka, dan menemukan arti di dalam proses pembelajarannya, sehingga pembelajaran akan menjadi lebih berarti dan menyenangkan. Peserta didik akan bekerja keras untuk mencapai tujuan pembelajaran, mereka menggunakan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya untuk membangun pengetahuan baru. Dan selanjutnya peserta didik memanfaatkan kembali pemahamanpengetahuan dan kemampuannya itu dalam berbagai konteks di luar sekolah untuk menyelesaikan masalah dunia nyata yang kompleks, baik secara mandiri maupun dengan berbagai kombinasi dan struktur kelompok.
Jadi jelaslah bahwa pemanfaatan pembelajaran kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang di dalamnya peserta didik akan menjadi peserta aktif bukan hanya pengamat yang pasif, dan bertanggung jawab terhadap belajarnya. Penerapan pembelajaran kontekstual akan sangat membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi peserta didik untuk membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga Negara, dan pekerja (Trianto, 2007: 101-105).

E.             Penguasaan dan Ketuntasan Belajar Statistika
Untuk mengetahui hasil belajar siswa harus dilakukan penilaian. Penilaian tidak hanya untuk mengukur kemampuan kecerdasan siswa atau ketrampilan saja, akan tetapi mempunyai fungsi sebagai bimbingan, seleksi peserta didik, efisiensi, dan sebagainya.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), ukuran ketuntasa hasil belajar siswa dinyatakan dengan KKM untuk setiap mata pelajaran berbeda – beda sesuai dengan tingkat kemampuan siswa terhadap pelajaran. Untuk pelajaran matematika khususnya materi statistika di SMK Salafiah Kejayan Kabupaten Gunungkidul tahun pelajaran 2013/2014 KKMnya adalah 75. Artinya seorang siswa akan dinyatakan tuntas belajar matematika apabila yang bersangkutan sudah memperoleh nilai minimal 75. Sedangkan sebuah kelas dinyatakan tuntas secara klasikal apabila siswa yang tuntas dikelas itu mencapai sekurang – kurangnya 85%.

F.             Materi Statistika
Statistika merupakan salah satu materi pada pelajaran Matematika kelas XIII semester 1. Dalam penelitian Standar Kompetensi yang terkait dengan materi statistika adalah Memahami dan menggunakan sifat-sifat data dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan kompetensi yang terkait adalah organisasi data, penyajian data dan tendensi sentral.
Indikator yang akan dicapai  adalah:
  1. menjelaskan peranan/kegunaan statistika dalam kehidupan sehari-hari
  2. menjelaskan pengertian statistik dan statistika
  3. menjelaskan pengertian variabel dan data
  4. membedakan jenis data
  5. penyajian data

Penyampaian materi statistika dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Kontekstual, di mana peserta didik dilatih atau membiasakan diri mengkonstruk idenya sendiri dalam menemukan konsep, mengaitkan konsep,  menggunakan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian ini diharapkan dapat memunculkan keaktifan dan keterampilan proses sehingga berpengaruh terhadap prestasi belajar peserta didik.
G.            Penelitian yang relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Dodo Suwanda dalam menyatakan bahwa hasil penguasaan materi siswa dengan pembelajaran metode Tutor teman sebaya lebih baik daripada pembelajaran yang menggunakan metode biasa. Selanjutnya penelitian yang dilakukan Mohammad Mudzakkir dengan  menyatakan bahwa hasil penguasaan materi siswa dengan pembelajaran metode Tutor teman sebaya lebih baik daripada pembelajaran yang menggunakan metode biasa.

G.            Kerangka Berpikir
Pembelajaran Metode  pembelajaran Kooperatif Tutorial Teman Sebaya Berbasis Kontekstual dapat membantu siswa yang kurang pandai dalam menguasai materi tutorial, bertanggung jawab, atau diskusi. Diharapkan siswa dapat lebih mudah menangkap dan memahami konsep Statistika. Sehingga siswa yang tuntsa belajar lebih banyak. Dengan demikian dapat memahami apabila Metode  pembelajaran Kooperatif Tutorial Teman Sebaya Berbasis Kontekstual dapat meningkatkan kualitas belajar siswa pada Statistika

BAB III
METODE PENELITIAN

A.                Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan tindakan kelas (Classroom Action Research), bertujuan  untuk memecahkan masalah-masalah melalui penerapan langsung di kelas atau tempat kerja.

B.                 Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa kelas XII Pemasaran yang berjumlah 14 siswa dan guru yang mengampu mata pelajaran Matematika tersebut. Penerapan penelitian ini diterapkan dalam pokok bahasan Statistika.

C.                Tempat dan Waktu Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di SMK Salafiah Kejayan pada bulan februari semester genap tahun pelajaran 2016/2017.

D.                Perencanaan Tindakan Penelitian
Penelitian ini direncanakan dua siklus yang masing – masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : Perencanaan, Implementasi, pengamatan dan evaluasi serta refleksi.
a.       Siklus 1
Siklus direncanakan satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 40 menit ( 2 jam pelajaran ). Adapun tahapan pada siklus 1 adalah sebagai berikut :
1.      Perencanaan
Dalam tahap ini direncanakan kegiatan – kegiatan sebagai berikut :
(a).  Menyusun rencana pembelajaran untuk jenis – jenis pecahan.
(b). Membentuk kelompok pembelajaran yang didasarkan pada   prinsip pembelajaran kooperatif dengan cara :
-          Menyusun daftar nama berdasarkan kemampuan akademik. Kemampuan akademik yang digunakan adalah nilai ulangan harian pertama
-          Menentukan jumlah anggota setiap kelompok sebanyak 5 orang sehingga dapat 5 kelompok belajar.
(c).  Membuat skenario pembelajaran kooperatif.
(d). Menyusun lembar pengamatan pembelajaran kooperatif
(e).  Memberikan penjelasan pada siswa tentang pembelajaran kooperatif
2.      Implementasi
Dalam tahap ini yang telah direncanakan pada tahap perencanaan dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang disusun. Pelaksanaan tidak mengganggu kegiatan di sekolah, karena urutan materi berjalan sesuai dengan kurikulum. Pada tahap ini model pembelajaran kooperatif dilaksanakan.
3.      Pengamatan dan Evaluasi
Pengamatan terhadap kegiatan belajar dilakukan pada saat implementasi untuk mengetahui jalannya proses pembelajaran. Pada akhir siklus 1 dilakukan tes. Berdasarkan hasil pengamatan tes/ evaluasi, maka tahap berikutnya dapat dilaksanakan.
4.      Refleksi
Setelah hasil pengamatan, dan hasil evaluasi dianalisis secara kolaboratif, maka penelitian diputuskan untuk dilanjutkan pada siklus kedua.
b.      Siklus 2
Siklus 2 dilakukan untuk memperbaiki segala sesuatu yang belum baik dan berakhir pada siklus 1. Adapun tahapan pada siklus 2 juga sama dengan tahapan yang ada pada siklus 1.
Perbaikan dilakukan berdasarkan hasil pada siklus 1
1.      Perencanaan.
(a).      Menyusun rencana pembelajaran untuk materi operasi pada bilangan pecahan.
(b).     Memperbaiki bentuk kelompok siswa
(c).      Memperbaiki bentuk soal pemecahan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari – hari.
(d).     Memperbaiki lembar pengamatan pembelajaran kooperatif
(e).      Memperbaiki isntrumen penelitian yang berupa tes, pedoman observasi untuk siswa, dan pedoman observasi untuk guru.
2.      Implementasi
Dalam tahap ini apa yang telah direncanakan pada tahap perencanaan akan dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang dibuat. Pelaksanaan tidak mengganggu kegiatan sekolah, karena urutan materi berjalan sesuai dengan kurikulum yang sudah ada di sekolah. Pelaksanaan pembelajaran diadakan perbaikan sesuai dengan hasil pada siklus sebelumnya.
3.      Pengamatan dan Evaluasi
Pengamatan terhadap kegiata belajar dilakukan pada saat implementasi untuk mengetahui jalannya proses pembelajaran. Pada akhir siklus 2 diakhiri dengan tes. Berdasarkan hasil pengamatan, dan hasil tes maka tahap berikutnya dapat dilaksanakan.
4.      Refleksi
Setelah hasil pengamatan dan hasil evaluasi dianalisis secara kolaboratif, maka langkah selanjutnya adalah melakukan refleksi apakah pembelajaran berhasil. Apabila belum berhasil maka penelitian diputuskan untuk dilanjutkan pada siklus ke 3. Dan apabila sudah berhasil maka sudah cukup.
      Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut.


                                                                                                

Penjelasan alur di atas adalah:
  1. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
  2. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya pembelajaran dengan Metode Kooperatif Tutorial Teman Sebaya Berbasis Kontekstual.
  3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
  4. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
            Observasi dibagi dalam dua siklus,  yaitu siklus 1, 2, dan seterusnya, dimana masing siklus dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. Siklus ini berkelanjutan dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.
E.                 Perangkat Pembelajaran
1.      Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
RPP dibuat sebelum pelaksanaan PTK dengan tujuan pelaksanaan  PTK ini sesuai dengan yang diharapkan.
2.      Lembar kerja siswa (LKS)
LKS dibuat sebelum pelaksanaan PTK dengan tujuan siswa dapat bekerja sama sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
LKS Statistika
             Penyajiaan data
Data dapat disajikan dalam bentuk diagram yaitu: diagram batang, diagram lingkaran,diagram garis , histogram , polygon, diagram lambing. Data juga dapat disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi. Untuk membuat table distribusi frekuensi harus diketahui terlebih dahulu rentang , benyaknya kelas dengan aturan sturgess dan panjang interval
Data dapat dibedakan berdasarkan penyajiannya yaitu: data tunggal, data tunggal berbobot dan data kelompok.
        Ukuran pemusatan data
Ukuran pemusatan data terdiri dari : nilai rata-rata, median dan modus.
        Nilai rata-rata data tunggal=  
        Nilai rata-rata data kelompok  =

                        Kerjakan soal berikut
1.  Diketahui data keuntungan pak Edi selama 10 tahun dalam berjualan roti sebagai berikut:

Tahun
keuntungan(Rp)
2001
2.500.000
2002
3.750.000
2003
4.000.000
2004
4.550.000
2005
5.000.000
2006
4.800.000
2007
4.500.000
2008
5.250.000
2009
5.800.000
2010
6.500.000
          Dengan melihat data tersebut buatlah gambar grafik!
2.  Diketahui data keuntungan tiap hari dari swalayan “A” selama bulan februari 2012 dalam jutaan rupiah
12        13        17        15        18        20
19        18        16        16        15        15
21        22        18        19        17        20
14        15        13        18        17        19
18        19        21        14        13        20
Dari data di atas tentukan :
a.      Nilai data maks dan nilai data min
b.      Rentang
c.       Banyaknya kelas
d.      Panjang interval
3.  Dari data soal no 2 buatlah table distribusi frekuensi
4.  Dari data soal no 2 tentukan nilai rata-rata

F.                 Instrumen Penelitian
            Pengembangan Instrumen untuk Mengukur Keberhasilan Tindakan nstrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) haruslah sejalan dengan prosedur dan langkah PTK. Instrumen untuk mengukur keberhasilan tindakan dapat dipahami dari dua sisi yaitu sisi proses dan sisi hal yang diamati.
1.      Lembar Observasi
            Lembar observasi digunakan untuk mencatat kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran selama tindakan diberikan untuk mengetahui sejauh mana keefektifan pemberian kuis dalam pembelajaran sebagai upaya peningkatan motivasi belajar siswa.
Untuk mengisi lembar observasi ini yaitu memilih “ya” bila deskripsi dilakukan dan “tidak” bila deskripsi tidak dilakukan. Adapun kisi-kisi untuk lembar observasi yang digunakan sebagai berikut.
Tabel . Kisi-kisi Lembar Observasi

Aspek yang Diamti
Nomor Butir
Jumlah
A
Guru membimbing siswa dalam proses belajar mengajar
1, 2, 3, 6, 7, 10,11, 23
8
B
Guru memotivasi siswa dalam meningkatkan belajar matematika dengan pemberian kuis
4, 5, 17, 22
4
C
Sikap siswa saat pembelajaran
9, 15, 16
3
D
Sikap siswa saat diberikan kuis
18, 19, 20
3
E
Bentuk motivasi yang diberikan guru
8, 12, 13, 14, 21
5

Jumlah

23


2.      Angket
            Angket ini berupa kumpulan pernyataan untuk mengumpulkan data mengenai respons siswa terhadap pemberian kuis dalam proses pembelajaran matematika guna meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika. Angket ini terdiri dari 22 butir pernyataan yang terbagi menjadi 2 butir pernyataan negatif dan 20 butir pernyataan positif. Masing-masing butir pernyataan mempunyai 5 alternatif jawaban yaitu:
 SS       : sering sekali,                          JR        : jarang,
             S         : sering ,                                   TP        : tidak pernah.
             KK     : kadang-kadang,
            Tabel 2. Kisi-kisi Angket       
No.
Indikator
Nomor Butir Soal
Jumlah
A.

B.


C.

D.
Motivasi mengerjakan kuis matematika
Ketekunan dalam mengerjakan dan menyelesaiakan kuis matematika
Usaha untuk meningkatkan prestasi belajar
Besarnya perhatian terhadap kuis matematika
1, 2, 3, 4, 5, 6

7, 8, 9, 10, 11


12,13,14,15

16,17,18,19,20,22
6

5


4

7

Jumlah

22

3.      Soal-soal Kuis
      Kuis yang disusun untuk penelitian ini dikembangkan berdasarkan analisis kurikulum atau silabus SMK Salafiah Kejayan untuk mata pelajaran matematika materi Statistika kelas XII Komputer Jaringan sebagai berikut.
Kompetensi Dasar       :  Menyajikan hasil penerapan konsep peluang untuk menjelaskan berbagaiobjek nyata melalui percobaan menggunakan frekuensi relatif
Indikator                     :
            Membuat data dalam bentuk diagram dan table
            Membuat data dalam bentuk table dari suatu data tunggal
Menghitung nilai rata-rata dari data table yang sudah diberikan       Kuis diberikan di awal, maupun pada akhir pembelajaran. Kuis hanya diberikan sekali atau dua kali dalam setiap pertemuan. Tes singkat (kuis) diberikan dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
b.      Tes prestasi
            Tes prestasi merupakan  tes evaluasi diberikan apabila sub bab telah selesai. Tes ini diberikan pada akhir siklus I dan akhir siklus II. Tes prestasi digunakan untuk mengukur penguasaan dan kemampuan para siswa setelah siswa menerima proses belajar-mengajar dari guru. Instrumen ini  juga digunakan sebagai sumber tambahan dalam melihat perkembangan motivasi siswa yang dilihat dari aspek peningkatan nilai dan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran dengan metode ekspositori yang diberikan kuis. Tes digunakan untuk mengetahui ketercapaian prestasi belajar siswa siswa. 

G.                Definisi Operasional Penelitian
1.      Metode Kooperatif Tutorial Teman Sebaya Berbasis Konseptual
a.       Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tujuan penting pembelajaran, diantaranya hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan social.
Menurut Slavin (1997), pembelajaran kooperatif, merupakan model pembelajaran dengan siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan heterogen.
b.      Pembelajaran Tutorial Teman Sebaya
Menurut Suharsimi Arikunto(2009) Tutor teman sebaya yaitu mereka yang mempunyai usia hampir sebaya dengan sesamanya dimintai bantuan oleh guru untuk menerangkan kepada teman-temannya dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran diperlukan bantuan tutor yaitu orang yang dapat membantu murid secara individual. Sebaiknya orang itu jangan gurunya sendiri sehingga ia dapat memberi bantuan dengan cara yang lain daripada guru itu. Hendaknya diusahakan agar murid selekas mungkin dapat membebaskan diri  dari bantuan tutor. Jadi tutor harus mendidik agar dapat belajar sendiri.
c.       Pembelajaran Berbasis Konseptual

            Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berdasarkan masalah bertujuan untuk (a) membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah, (b) belajar peranan orang dewasa yang autentik,  dan (c) menjadi pebelajar yang mandiri.

2.      Kemampuan penguasaan materi Statistika
            Pemahaman konsep adalah pemahaman terhadap ide atau pengertian umum yang disusun dengan kata atau simbol yang menjadi titik tolak awal dari semua hal yang berhubungan dengan ide tersebut. Indikator pemahaman konsep meliputi:
1)      Kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan guru dan mengerjakan soal di papan tulis secara tepat.
2)      Kemampuan siswa dalam menerapkan konsep secara tepat.
3)      Kemampuan siswa memberi tanggapan tentang jawaban siswa lain.
4)      Kemampuan siswa dalam membuat kesimpulan materi.

H.                Teknik Analisa Data
Data penelitian dikumpulkan melalui :
1.          Pengamatan pembelajaran sebelum penelitian, yang terasa begitu berat dalam mengajarkan Statistika di kelas XII SMK N 1 Girisubo.
2.          Pengisian angket oleh siswa sebelum dan sesudah penelitian dilakukan.
3.          Pengisian lembar pengamatan proses pembelajaran selama penelitian oleh kolaborator dan peneliti sendiri. 
4.          Melalui tes (pretes dan postes) materi penelitian sebelum dan sesudah tindakan dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Depdiknas. 2006. Model Pelatihan dan Pengembangan Silabus. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Krismanto, Al. 2003. Beberapa Teknik, Model, dan Strategi Dalam Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Matematika.
 Diakses tanggal 22 Oktober 2013.
Krismanto, Al. (2003). Beberapa Teknik, Model, dan Strategi dalam Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Makalah disajikan dalam pelatihan instruktur/pengembang SMU.
Slavin, Robert E. 2010. Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktek. Bandung: Penerbit Nusa Media.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

No comments:

Post a Comment