Sunday, June 1, 2014

MAKALAH KWU (KEWIRAUSAHAAN) - MENGELOLA KONFLIK



MAKALAH KWU (KEWIRAUSAHAAN) - MENGELOLA KONFLIK



<  Pengertian Konflik
Pengertian:
·  Segala macam interaksi pertentangan atau antagonistik antara dua pihak atau lebih.
·  Proses yang timbul karena suatu pihak merasa bahwa pihak lainnya mempunyai persepsi yang tidak sejalan dengan pihaknya
Elemen dalam konflik:
·         1) adanya dua pihak atau lebih;
·         2) interaksi pertentangan
Konflik organisasi adalah:
“ketidaksesuaian antara dua atau lebih anggota atau kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber-sumber daya yang terbatas  dan atau karena kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai atau persepsi.”

 
            Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
            Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
            Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.            Konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang (masalah intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya ketegangan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada tahap di mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing.
            Substantive conflicts merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok, pengalokasian sumber dalam suatu organisasi, distribusi kebijaksanaan serta procedure serta pembagian jabatan pekerjaan.
            Emotional conflicts terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan penolakan, serta adanya pertentangan anatr pribadi (personality clashes).Dalam sebuah organisasi, pekerjaan individual maupun sekelompok pekerja saling terkait dengan pekerjaan pihak-pihak lain. Ketika suatu konflik muncul di dalam sebuah organisasi, penyebabnya selalu diidentifikasikan sebagai komunikasi yang tidak efektif yang menjadi kambing hitam.
            Seorang wirausahawan harus memandang sebuah persoalan dari berbagai sudut dan mencari cara baru untuk memecahkan masalahnya. Jika kelompok karyawan perusahaan mengurangi jumlah pilihan misalnya, maka wirausahawan harus mempertimbangkan masalahnya agar menjadi luas dan mendalam.
            Jika wirausahawan meninjau lagi pemecahan masalah yang mungkin terkait di dalm daftar, maka beberapa pemecahan itu dapat digabungkan, sedangkan pemecahan masalah yang lainnya dapat dikesampingkan. Berikut ini beberapa criteria yang mungkin sangat berguna jika seorang wirausahawan ingin mengevaluasi pemecahan masalah yang diusulkan.
1.              Apakah pemecahan masalah itu dapat diterapkan dengan baik?
2.              Apakah pemecahan masalah itu sudah logis?
3.              Apakah persoalan-persoalan tambahan yang timbul dapat diselesaikan dengan baik?
Permasalahan yang dihadapi oleh para wirausahawan hendaknya yang actual dan menarik serta mengandung beberapa kemungkinan tindakan, di antara beberapa alternative pemecahan masalah, salah satunya cara penerapan Teori Dewey tentang berpikir positif, bahwa seorang wirausahawan hendaknya:
1.              Tidak merasa bimbang,bingung, dan kesulitan;
2.              Merumuskan masalah yang ingin dipecahkan untuk mengatasi kebimbangan tersebut;
3.              Menguji hipotesis dengan mengumpulkan data factual sebagai usaha menemukan cara pemecahan masalah;
4.              Mengembangkan ide untuk memperoleh pemecahan terbaik;
5.              Mengambik kesimpulan yang didukung oleh fakta yang valid.

A.            Konflik sebagai Bagian Masalah dalam Wiausaha
                Konflik adalah ketidakseimbangan antar norma yang berlaku dan sikap yang dilakukan. Dalam dunia usaha, konflik dapat terjadi karena beberapa factor, antara lain:
1.                  Tidak adanya tujuan usaha yang jelas.
2.                  Tidak adanya job description yang jelas atau pembagian tugas.
3.                  Tidak adanya perencanaan kegiatan usaha.
4.                  Tidak adanya struktur organisasi.
5.                  Manajemen perusahaan.
         Setiap konflik yang terjadi di perusahaan atau pada lembaga atau instalasi  atau organisasi dapat menimbulkan suatu masalah sehinnga mengganggu kegiatan yang sedang berjalan.
        Apabila konflik yang muncul tidak segera ditindak lanjuti maka dapat menimbulkan masalah yang besar dan kompleks.Jika terjadi konflik, maka seorang pemimpin harus segera mengambil suatu tindakan untuk mengidentifikasi konflik yang muncul.
Berikut ini langkah-langkah untuk mengidentifikasi konflik :
1.              Mengumpulkan informasi dari sumber konflik.
2.              Mencari fakta konflik.
3.              Menetapkan beberapa alternative konflik.
4.              Menetapkan satu konflik yang tepat.
5.              Menganalisis konflik.
6.              Menemukan solusi konflik.

Contoh:
Ibu Yuni memiliki usaha toko kelontong “Anisa” yang menyediakan barang-barang kebutuhan pokok. Dalam mengelola usahanya, Ibu Yuni sangat rajin dan teliti. Semua barang dagangan tertata dengan rapi dan kebersihan selalu dijaga. Letaknya yang strategis dan luas dapat menarik pembeli. Namun kenyataannya toko kelontong Ibu Yuni tidak laku dan tidak ada yang membeli. Berdasarkan ilustrasi di atas, kita cari konflik yang terjadi dengan melakukan identifikasi konflik.
1.              Informasi atau sumber konflik
a.              Toko kelontong Anisa.
b.              Omzet penjualan tidak ada.
c.              Daya beli konsumen.
d.             Selera konsumen.
2.              Fakta konflik
a.              Daya beli konsumen di lingkungan toko kelontong Anisa rendah.
b.              Selera konsumen pada umumnya rendah.
c.              Rata-rata pendapatan calon konsumen rendah.
d.             Barang dagangan toko kelontong Anisa tidak sesuai dengan daya beli dan selera konsumen.
e.              Calon konsumen memilih berbelanja di pasar tradisional dengan harga terjangkau dan sesuai selera.
3.              Menetapkan alternative konflik
a.              Daya beli konsumen yang tidak sesuai.
b.              Selera konsumen pada yang tidak sesuai.
c.              Omzet penjualan yang rendah.
4.              Menetapkan satu konflik yaitu omzet penjualan yang rendah.
5.              Menganalisis konflik
Yaitu dengan mencari factor penyebab konflik.
6.              Menemukan solusi konflik
Hal-hal yang menyebabkan konflik terjadi yaitu:
a.              Tidak adanya observasi pelanggan.
b.              Tidak adanya persediaan barang dagangan yang bervariatif sesuai dengan daya beli dan selera pasar.
c.              Tidak adanya sosialisasi pada lingkungan.

B.     Penggolongan Konflik
            Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel  menjelaskan bahawa konflik dapat digolongkan sebagai berikut :
1.              Konflik Intrapersonal adalah konflik yang terdapat dalam diri seseorang,konflik ini terjadi ketika  pada suatu waktu yang sama  seseorang memiliki dua keinginanyang tidak  mungkin dipenuhi sekaligus.Ada tiga macam bentuk konflik intrapersonal, yaitu :
§    Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada pilihan yang sama sama menarik
§    Konflik pendekatan-penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada ddua pilihan yang sama menyulitkan.
§    Konflik enghindaran-penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada suatu hal yang mempunyai nilai Fositif dan Negatif.
2.              Konflik Interpersonal adalah suatu pertentangan yang terjadi antara seseorang dengan orang lain karena adanya perbedaan kepentingan atau keinginan,konflik ini biasa terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Dalam bidang usaha, hal ini dapat terjadi ketika suatu usaha yang telah berkembang dan melibatkan beberapa karyawan yang terlibat di dalam konflik interpersonal.
3.              Konflik antar-individu dan kelompok. Hal ini berhubungan dengan cara individu menghadapi tekana-tekanan unutuk mencapai konformitas yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka. Sebagai contoh, bahawa seseorang individuv dapat dihukum oleh kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas kelompok dimana ia berada.




C.    Tingkatan Konflik
            Konflik yang timbul dalam suatu lingkungan pekerjaan dapat dibagi dalam empat tingkatan yaitu sebagi berikut :
a.              Konflik dalam diri Individu itu sendiri
Konflik dalam diri seseorang dapat timbul jika terjadi kasus overload, dimana ia dibebani dengan tanggung jawab pekerjaan yang terlalu banyak, dan dapat pula terjadi ketika dihadapkan pada suatu titik di mana ia harus mebuat keputusan yang melibatkan pemilihan alternatif yang terbaik.
Perspektif di bawah ini mengentifisikan empat episode konflik, dikutip dari tulisan Thomas V.Banomaa dan Gerald Zaltman dalam buku Psychology for Management :
§    Approach-approach conflict ,yaitu situasi dimana seseorang harus memilih salah satu diantara beberapa alternatif yangsama baiknya.
§    Avoudance-avoidance conflict, yaitu situasi dimana seseorang terpaksa memilih salah satu di antara beberapa alternatif tujuan yang sama buruknya.
§    Aproach-avoidance conflict, yaitu merupakan suatu situasi di mana seseorang terdorong oleh keinginan yang kuat untuk mencapai satu tujuan, tetapi disisi lain secara stimultan selalu terhalang dari tujuan tersebut oleh aspek-aspek tidak menguntungkan yang tidak bisa lepas dari proses pencapaian tujuan itu sendiri.
§    Multiple aproach-avoidance conflict, yaitu suatu situasi di mana  seseorang terpaksa dihadapkan pada kasus kombinasi ganda dari approach-avoidance conflict.
            Konflik yang berasal dari dalam diri sendiri (masalah intern) seringkali disebabkan oleh unsur-unsur berikut :
a)              Rasa kurang percaya diri
b)             Latar belakang pendidikan yang kuang memadai
c)              Budaya yang membatasi
d)             Pola asuh orang tua
e)              Masalh kesehatan seseorang

b.              Konflik Interpersonal
Konflik interpersonal  merupakan konflik antara satu individu dengan individual yang lain.Konflik interpersonal dapat berbentuk substantive maupun emotional,bahkan merupakan kasus utama dari konflik yang dihadapi oleh para manajer dalam hubungan interpersonal sebagai bagian dari tugas manajerial itu sendiri. Konflik yang timbul dengan orang lain atau karena fakor li gkungan ekstern, misalnya dari lingkungan kerja yang sering kita tidak dapat hindari. Faktor ekstern tersebut  jika mungkin hendaknya kita ubah menjadi suatu kerjasama. Sebab banyak sekali unsur-unsur  penyebab konflik yang tidak dapat dihindari lagi bila kita berada di lingkungan kerja.
c.              Konflik Intergrup
Konflik intergrup merupakan hal yang tidak asing lagi bagi organisasi manapun konflik ini menyebabkan sulitnya koordinasi dan integrasi dari kegiatan yang berkaitan dengan tugas-tugas dan pekerjaan. Dalam setiap kasus, hubungan intergrup harus di-manage sebaik mungkin untuk mempertahankan kolaborasi dan menghindari semua konsekuensi disfungsional dari setiap konflik yang mungkin timbul.
Dibawah ini ada beberapa pendapat tentang konflik yang timbul dalam perusahaan, antara lain :
§    Pandangan Tardisional
Konflik merupakan hal yang tidak diinginkan dan berbahaya bagi organisasi atau perusahaan.Mereka berpendapat bahawa timbulnya konflik menunjukan adanya sesuatu yang salah dalam organisasi.
§    Pandangan perilaku
Konflik merupakan suatu peristiwa yang sering terjadi dalam organisasi. Mereka berpendapat bahwa dalam organisasi yang terdiri dari kupulan orang-orang, wajar jika mereka mempunyai kepentingan yang saling bertentangan ehingga menimbulkan konflik.
§    Pandangan Interaksi
Konflik dalam organisasi merupakan hal yang tidak terhindarkan dan ahkan diperlukan.Mereka berpendapat mesikpun konflik sering merugikan,tetapi konflik tidak bisa dipungkiri dapat membuat organisasi  bisa beroperasi dengan lebih efektif.
Para wirausahawan dalam tugasnya setiap hari selalu berhadapan dengan orang-orang yang berbeda kepentingannya. Tiap-tiap orang yang berbeda kepentingan tersebut,semuanya berpotensi menimbulkan konflik.Adapun orang-orang yang dapat menimbulkan konflik bagi wirausahawan adalah sebagai berikut :
a)              Para kosumen dan pelanggan
b)             Para karyawan atau pegawal sendiri
c)              Para pemasok atau suplaiyer
d)             Para investor
e)              Para mitra usaha
f)              Masyarakat sekitar perusahaan
g)             Para pesaing, dan sebagainya.

4.Konflik Interorganisasi
                        Konflik ini sering dikaitkan dengan persaingan yang timbul di antara perusahaan – perusahaan swasta.Konflik interorganisasi sebenarnya berkaitkan dengan isu yang lebih besar lagi, contohnya perselisihan antara serikat buruh dengan perusahaan.Dalam setiap kasus,potensi terjadinya konflik melibatkan individual yang mewakili organisasi secara keseluruhan, bukan hanya sub-unit internal atau grup.

D.    Konflik sebagai Suatu Proses
                        Konflik merupakan proses yang dinamis, bukannya kondisi statis.Konflik memiliki awal dan melalui banyak tahap sebelum berakhir. Ada banyak pendekatan yang baik untuk menggambarka proses suatu konflik antara lain sebsgai berikut :
i.                    Antecedent Conditions or latent conflict
Merupakan kondisi yang berpotensi untuk menyebabkan atau mengawali sebuah episode konflik.Terkadang tindakan agresi dapat mengawali proses konflik.Antecendent  conditions dapat tidak terlihat,tidak begitu jelas di permukaan.Perlu diingat bahwa kondisi-kondisi ini belum tentu mengawali proses suatu konflik. Sebagai contoh,tekanan yang didapat departemen produksi suatu perusahaan untuk menekan biaya bisa menjadi sumber frustasi ketika manager penjualan ingin agar produksi ditingkatkan untuk memenuhi permintaan pasar yang mendesak. Namun demikian, konflik belum tentu muncul karena kedua belah pihak tidak berkeras memenuhi keinginannya masing-masing.Disinilah dikatakan konflik bersifat laten,yaitu berpotensi untuk muncul tapi dalam kenyataannya  tidak terjadi.
ii.                  Perceived Conflict
Agar konflik berlanjut , kedua belah pihak harus menyadari bahwa mereka dalam keadaan terancam dalam batas-batas tertentu. Tanpa rasa terancam ini salah satu pihak dapat saja melakukan sesuatu yang berakibat negatif bagi pihak lain, namun tidak disadari sebagai ancaman.
iii.            Felt Conflict
Persepsi berkaitan erat dengan perasaan. Karena itulah jika orang merasakan adanya perselisihan baik secara aktual maupun potensial,ketegangan,frustasi,rasa marah maupun kegusaran akan bertambah.
iv.            Manifest Conflict
Persepsi  dan perasaan menyebabkan orang untuk beraksi terhadap situasi tersebut. Begitu banyak reaksi yang mungkin muncul pada tahap ini, tindakan agresif atau bahkan munculnya niat yang baik yang mengahasilkan penyelesaian masalah yang konstruktur.
v.               Conflict Resolution or Suppression
Konflik resolution atau hasil dari konflik dapat muncul dalam berbagai cara.Tetapi terkadang terjadi pengacauan (suppression) dari konflik itu sendiri.
vi.            Conflict Alternatif
Ketika konflik terselesaikan,tetap ada perasaan yang tertinggal.Jika yang teringga adalah perasaan tidak enak dan ketidakpuasan hal ini dapat menjai kondisi yang potensial untuk episode konflik yang selanjutnya.

E.     Penyebab Terjadinya Konflik
Penyelesaian efektif dari suatu konflik seringkali menuntut agar faktor-faktor  penyebabnya  diubah. Penyebab terjadinya konflik dikelompokkan dalam tiga kategori besar, yaitu karakteristik individual , beberapa kondisi umum yang muncul di antara orang-orang dan grup, serta desain dan struktur organisasi sendiri.

1.Karakteristik Individual
Berikut ini merupakan perbedaan individual antar orang-orang yang mungkin dapat melibatkan seseorang dalam konflik.
a.              Nilai sikap dan kepercayaan (Values, Attitude, dan Baliefs).
b.              Kebutuhan dan kepribadian (Needs and Personality).
c.              Perbedaan persepsi (Perseptual Differences).

2.Faktor Situasi
a.  Kesempatan dan kebutuhan berinteraksi (Oppurtunity and Need to Interact).
b. Kebutuhan untuk berkonsensus (Need for Consensus).
c. Ketergantungan satu pihak kepada pihak lain (Dependency of One Party to Another)
d. Perbedaan status (Status Differences)
e. Rintangan komunikasi (Communication Barriers).
f. Batas-batas tanggungjawab dan jurisdiksi yang tidak jelas (Ambiguous Tespondibilites and Jurisdictions).

Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya konflik di lingkungan kerja antara lain sebagai berikut.

1. Perbedaan Kepribadian
Ada orang-orang yan g kepribadian obsessive-compulsive. Menurut Caviola dan Lavender, orang-orang yang berkepribadian obsessive-compulsive tersebut cenderung suka mencari-cari kesalahan dan memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Ia selalu merasa bahwa caranyalah yang terbaik untuk dilakukan. Bila kita menghadapi orang-orang dengan tipe yang seri ng menyebabkan konflik, sebaiknya kita mencari strategi untuk mengubah konflik tersebut menjadi kerjasama yang menguntungkan.

2.Perbedaan Latar Belakang Kebudayaan
Masing-masing kelompok kebudayaan memilik nilai-nilai dan norma-norma social yang berbeda-beda ukurannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Perbedaan-perbedaan inilah yang dapat mendatangi konflik sosial. Penyebab kriteria  tentang baik buruk, sopan tidak sopan, pantas tidak pantas atau bahkan berguna atau tidak bergunanya yang didasarkan pada latar belakang kebudayaan masing-masing.

3.Perbedaan Cara Pandang
Adanya perbedaan cara pandang yang terjadi pada sekelompok orang seringkali menimbulkan konflik. Perbedaan prinsip di antara anggota tim, misalnya seseorang menginginkan agar pekerjaa dapat diselesaikan secepat mungkin dan bila ada kekurangan akan diperbaiki kemudian. Sedangkan anggota yang lain menginginkan kualitas sebaik mungkin dan berpikir bahwa biar lambat asal selamat. Tentu saja dua orang anggota yang berbeda prinsip atau cara pandang tersebut akan sulit bekerja sama, sehingga dapat menimbulkan konflik.

4.Perbedaan Tujuan dan Kepentingan
Jika di antara para anggota tim terdapat perbedaan tujuan dan kepentingan, maka hal tersebut pasti akan memicu konflik. Misalnya adanya perbedaan antara tujuan individu dalam tim dengan tujuan tim. Jika ada seorang anggota tim yanglebih mengutamakan tujuan dan kepentingan pribadinya sendiri seperti mengejar volume penjualan yang besar, sehingga dengan ambisinya yang besar itu dia melakukan berbagai cara untuk mencapainya, misalnya mengurangi kualitas agar dapat menekan biaya, atau memberikan diskon besar tanpa menjaga nama baik dan profit perusahaan. Anggota tim yang seperti ini tentu saja mendapat masalah bila bekerja dengan temannya yang lebih mengutamakan pencapaian tujuan perusahaan dalam jangka panjang.

5.Perbedaan Pemahaman
Konflik dapat terjadi karena adanya kesalahpahaman yang menimbulkan perbedaan pemahaman. Hal itu terjadi bila penjelasan yang didengar atau fakta yang dikumpulkan kurang lengkap atau kurang akurat. Dapat pula karena pemahaman yang setengah-setengah dan tidak tuntas sehingga berpotensi menimbulkan konflik.
Misalnya seorang pimpinan menugaskan kepada bawahan yang bertumpang tindih dengan tugas yang harus dilakukan oleh anggota tim lainnya. Kondisi ini dapat menimbulkan konflik antar rekan kerja di perusahaan.

6.Perubahan-perubahan Nilai yang Cepat
Nilai-nilai sosial, baik nilai kebenaran, kesopanan, maupun nilai material dari suatu benda mengalami perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak akan menyebabkan konflik sosial.
Misalnya industrialisasi yang mendadak di poedesaan akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat indiustri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotong-royongan yang berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan structural yang disusun dalm organisasi formal perusahaan.
Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagfian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istorahat dalam dunia industry.
Di samping faktor-faktor tersebut, konflik terjadi karena dipidu oleh situasi-situasi yang mendukung, antara lain sebagai berikut.

1.              Konflik dalam keluarga
Contoh:
a.              Perbedaan pendapat dalam opengelolaan usaha keluarga dengan orang tua, diman orang tua tentu melindungi anak, sehingga anak merasa tidak dipercaya dan mampu salam menjalankan usaha keluarga.
b.              Perbedaan selera makan orang tua dengan anak-anaknya sehingga orang tua sering maskan di luar rumah.
c.              Perbedaan gaya hidup dan pola piker antara suami istri.
2.              Konflik dengan mitra kerja
Contoh : perbedaan persepsi dalam suatu masalah sehingga suasana kerja tidak menyenangkan.
3.              Konflik dengan atasan atau manajer
Contoh : gaji yang tidak sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hidup.
4.              Konflik dengan bawahan atau pekerja
Contoh : turunnya tingkat produktivitas pekerja yang memnyebabkan omzet produksi dan kualitas produk menurun tajam.
5.              Konflik agama
Contoh : munculnya fanatisme dan SARA
6.              Konflik pribadi
Contoh : keterbatasan kemampuan yang menyebabkanrasa tidak percaya diri dan minder.

No comments:

Post a Comment